bunsay

Edisi Shalat Berjamaah

Ied mubarak everyone!

Jadi gini, konten hari ini mah mau nulis refleksi aja saat diriku shalat berjamaah kemarin. Ngerasa gak sih, pas kita shalat dan liat kanan kiri kita, rupanya kita nggak bersebelahan dengan manusia? Setiap kita bergeser merapatkan barisan, orang sebelah kita ikut bergeser! Whaaaat!

Sepengetahuan saya yg dangkal ilmu agamanya ini, yg disebut rapatkan shaf itu lengan kita dan orang sebelah kita bertempelan. Bener gak ya? Mohon pencerahannya..

Sementara, kita membawa sajadah jumbo, berdiri seakan sajadah tersebut adalah milik kita seorang. Tidak peduli kalau sebelah kita hampa. Apa karena sense of belonging akan sajadah kita tinggi? Saya yakin, meskipun kita mengisi sajadah orang, ia pun ngga akan merasa keberatan. Apalagi kalau perempuan kan shalatnya nggak berdiri seperti laki-laki. Apalagi tahyat akhirnya pun nggak akan sampe jebrag banget sebesar sajadah jumbo itu. Iya nggak sih?

Kalau pernah shalat di Salman ITB (karena saya domisili di Bandung), pasti disuruh rapatkan shaf, ibunya (ibu penjaga masjid) galak. Ia menggalakkan rapat shaf lengan satu sama lain berdekatan. Sehingga indah sekali ibadah disana. Khusyuk. Kan katanya sela yg kosong itu biasanya diisi setan, iya nggak sih?

Gambar ini dapat dari instastory temen saya @hanatsurayya.

Berjamaah tapi suudzon, padahal kan shalat berjamaah harusnya rapat shafnya!

Di tempat kamu gimana? Apa berjamaah tapi individualistis juga seperti di tempatku?

Advertisements
bunsay

Gendongan (1)

“Mau nyoba gendongan, tapi kok mahal yah..”

Wait, you might want to try this one, Babyta by Bobita Carrier. Ini lokal punya dan ekonomis banget dibanding gendongan lokal Soft Structure lainnya. Kalau yg belum tau Bobita, Bobita ini bisa dibilang produk premiumnya lah.. hehehe..

Nah kenapa saya coba Babyta? Pertama, saya memang sedang cari gendongan lokal yg simpel, ringan, tinggal klip-klip doang pasangnya.

Kedua, rasa penasaran mau coba gendongan lokal. Saya dapet kado dari temen sih gendongan Ergobaby 360. Itulah yg kami pakai sejak Hanum lahir. Tapi bulky, saya masih mencari gendongan lain yg travel-friendly. Diantaranya yg masuk list saya adalah Cuddleme Lite Carrier (500gr, ada pouch, hanya size standar) dan Nana Baby carrier (bahan sama dari canvas, tidak ada pouch, tapi tersedia dua size, standar dan toddler).

Terakhir, pastinya dong alasan ekonomis. Saya waktu liat iklannya dari Bobita, udah langsung pengen coba. Pas banget peluncuran perdananya cuma, wait for it, Rp 200.000,- (normal 235.000) ajaaaaaa.. mayaaaaan.. terus pake Shoppee belanjanya, jadi gratis ongkir.. senang hatiku..

Berikut saya lampirkan juga fitur dari Babyta Carrier. (Screenshot dari official IG @babytacarrier)

Untuk dimensi carriernya sendiri sebagai berikut:

  1. Panjang tali pinggang 67-137 cm
  2. Panjang tali bahu max. 103 cm
  3. Tinggi panel badan 40 cm, lebar panel badan 40 cm (dengan toleransi perbedaan 2 cm)
  4. Berat 500 gr

Dengan harga promo tersebut dan fitur-fitur yg ditawarkan. Jadilah, akhirnya saya mencoba beli Babyta edisi perdana motif Parang Ungu.

Nah ini foto pemakaiannya, beltnya cukup besar dan nyaman dipakai jalan-jalan. Usia Hanum sekarang 15 bulan dengan berat badan sekarang sekitar 8.8 kg, tinggi 75 cm. Saya senang sekali karena gendongan ini support TICKS dan knee to knee position. Ini harus diperhatikan yaaa.. apalagi anaknya beranjak toddler. Disini Hanum lagi tidur sepanjang jalan ia juga nyaman sih saya gendong.

Gendongan ini tutup kepalanya pakai velcro untuk sambungan dari leher bodi gendongannya. Karena tidak ada kantong jadi saya suka gulung aja kedalam dan menjadikannya sandaran leher. Di bagian belt pinggang juga terdapat hip pouch buat simpan ponsel, jadi tetep aman juga.

Secara keseluruhan, gendongan ini nyaman digunakan. Bahan kainnya juga nyaman bagi penggendong dan bayi. Di bagian lutut gendongan juga terdapat busa yg empuk bagi bayi. Motifnya lokal sekali, jadi sepertinya cantik juga dipakai undangan, hehehee.. harganya memang murah, tapi kualitasnya bagus. Jahitannya pun rapi dan dapat dipercaya untuk menggendong hingga berat badan 16 kg (seperti klaimnya). Ringan dibawa juga disertai dengan pouchnya.

Untuk harga segini, saya merekomendasikan sekali. Baik untuk diri sendiri maupun untuk kado. Sekian review ibunya Hanum untuk gendongan Babyta. Semoga dikasih rezeki lagi buat nyobain gendongan lainnyaaaaa..

Mari menggendong dengan aman dan nyaman!

#gendonganlokal #ssclokal #babytacarrier #reviewgendongan #reviewbabyta #gendonganmurah #amanmenggendong #yukgendong

bunsay

Bunsay: Aliran Rasa Bintang Kecilku 7/12

Jadiiiiii.. setelah berdiam diri selama beberapa waktu, saya banyak fokus dengan belajar sama Hanum. Saya dan Hanum belajar merajut koneksi kami lagi. Tau banget kan sibuk main gadget bikin gak konsen? Hahahaha..

Saya mengamati ketika ia berbinar, masih pada hampir semua kegiatan yg kami lakukan, entah itu menari, menyanyi, membaca, meraba pompom, melatih konsentrasinya dengan mengeluarkan dan memasukkan spidol warna warni. Setiap hari kami ya begitu saja.. kadang variasi lainnya, kami membuat prakarya mini seperti kalung lonceng untuk si Ule dari kawat. Dia selalu bersemangat.

Begitupun saat kami bepergian keluar. Sekarang dia suka sekali berjalan dan sedikit sekali digendong. Padahal kadang tidak semua tempat sepi, hehehe.. saya suka khawatir kehilangan pantauan.

Saya baru sadar, saya pun dulu pernah menjadi seperti Hanum. Semua yg ia lihat begitu menakjubkan dan ingin mencobanya dengan rasa penasaran yg begitu besar. Mungkin benar adanya kalau semakin dewasa, pandangan kita terhadap dunia tidak lagi semenakjubkan itu. Kita tidak lagi penasaran ingin coba ini itu karena kita nyaman.

Tapi, cobalah banyak amati anak kita. Cobalah kita pantau ia dan sedikit mengurangi mengecamnya. Banyak isi ia dengan contoh, supaya ia dapat terus menikmati rasa penasaran. Saya pun kadang suka gemes kalau dia belum bisa, misal menyendok makanan saat itu, tapi coba kita bayangkan bahwa kita dulu pernah menjadi seperti ia. Bahwa saat kita berkata,

“Sudah ibu saja sendokin buat Hanum ya?”

Itu saja sudah kita lakukan, itu saja sudah mematahkan semangatnya untuk mencaritahu. Ya Allah.. saya pun masih belajar. Saya pun dulu mungkin pernah merasakan hal yg sama. Freedom with Limitation dan Prepared environments dari buku Jatuh Hati pada Montessori yg sedang saya baca sungguh mengena di hati. Saya tertarik dengan kedua aspek itu. Mungkin saya juga baru mempelajarinya, tetapi saya sadari memang sebagai orangtua kita justru banyak melarang daripada mengamati dan memberi langkah-langkah bantuan agar ia dapat melakukannya. Kita banyak menasehati daripada bertanya pada anak apa yg ia rasakan dari tindakannya. Kita banyak menghakimi daripada melihat caranya belajar, yg memang semua anak berbeda langkahnya. Karena dari cara yg berbeda itulah anak belajar.

Semua anak adalah bintang.

Kita boleh membandingkan anak. Tetapi bandingkan lah ia dengan dirinya yg sebelumnya, BUKAN bandingkan ia dengan anak lainnya.

#gamelevel7 #InstitutIbuProfesional #SemuaAnakAdalahBintang #aliranrasa #hanumbintangkecilku #KuliahBundaSayang

bunsay

Rehat Gadget

Kedengerannya sangat sok idealis dan nggak mungkin banget zaman sekarang dilakuin. Apapun kegiatannya pasti diselingi ngegadget. Gak anak kecil, anak muda, anak baru kolot pun asik banget ngegadget. Beberapa hari ini saya mencoba untuk rehat sejenak di dunia maya, termasuk mendokumentasikan kegiatan anak sehari-hari, yang mana ibu zaman now kaga bisa tuh lepas dari instastory dan klik klik sana sini buat capture every single moments.

Saya mengerti dan memahami bahwa sudah hampir sebagian besar dari kita nggak bisa lepas dari benda ini. Even televisi pun masuk ya ke area gadget. Berapa banyak sih dari kita yg bener-bener sibuk ngurusin anak tanpa gadget? Gak bisa bohong juga saya salah satunya. Hahahaha..

Ini hari ini saya nulis di blog pun, hasil mencoba selama 3-4 hari lah. Saya pun menggunakan gadget untuk komunikasi sama suami, sering video call untuk berbagi keceriaan tumbuh kembang anak kami. Gak bisa dipungkiri ini mah.. saya bisa off gadget pada saat suami lagi barengan. Heheheh.. karena buat apa juga main gadget da dia ada disini. Hahaha..

Nah, dari rehat gadget ini apa manfaat yg saya rasakan?

1. Saya menyadari bahwa saya bisa hidup sepi gadget. Saya bisa jalan terus tanpa ponsel dan televisi. Dunia gak kiamat kalo saya nggak ber gadget ria. Kalem aja.. ngerasa gak sih semakin up to date gadget kita semakin kita pengen eksis di sosial media? Semakin besar keinginan kita mencari info melalui si mbah Google dan aplikasi lain? Atau mengunggah kegiatan sehari-hari secara real time?

2. Melihat dengan kamera, nggak secepat melihat dengan mata kita. Otak kita prosesornya sangat baik dan cepat. Keindahan estetika mata dan indra rasa hati bergerak dengan sendirinya. Kita gak perlu nunggu aplikasi kamera terbuka dan memotret dengan lensa kamera setiap saat. Melihat itu indah.

3. Saya nggak tau apa ini cuma perasaan saya aja tapi waktu terasa nikmat dan lama. Saya nggak dikejar waktu membaca dan membalas pesan singkat. Pun harus mencari tahu apapun yg terjadi di luar sana, saya merasa lebih nyaman, tenang, inner peace saya keluar. Saya tidak merasa terusik. Hehehe..

Rehat gadget sebaiknya sering kita lakukan. Bagus buat diri kita. Menjadi sunyi bukan berarti sepi. Tetapi mencari bagian diri kita yg terbawa arus teknologi. Dan menjadi manusia seutuhnya.

bunsay

Bunsay: Bintang Kecilku 7/11

Haloooooo.. heheheh.. semoga pada nunggu saya nulis lagi..

Jujur, beberapa hari ini saya banyak mengamati dan membaca grup saja. Komen seperlunya. Saya merasa harus benar-benar menarik diri untuk bisa keluar lagi sepenuhnya. Saya sedang banyak mengisi diri saya lagi. Sama seperti Hanum, saya juga mau bersinar seperti dia. Heheheh..

Kegiatan yg sebenarnya saya lihat membuatnya selalu berbinar diantaranya adalah ya buku-buku ini. Buku apapun, hingga Quran pun ingin ia baca. Saat ini saya melihat keinginannya untuk membaca dan membacakan untuk kami sangat besar. Kontrol atas dirinya sudah mulai muncul, seperti yg saya ceritakan pada ulasan sebelumnya. Dimana ia sangaaat suka memegang sendok sendiri, ingin minum, berusaha mencapai apa yg ada di meja, dan lainnya. Begitupula dengan membaca.

Saya mulai memperkaya khasanah ilmu saya dengan membaca juga dong.. hehehe.. diantaranya 4E (Enjoy, Easy, Excellent, dan Earn) yg saya baca di Ebook Pandu 45. Keempat aspek ini memunculkam bakat secara optimal pada anak kita. Namun jelas, saya masih perlu terus mengamati dan mengamati untuk saat ini. Ya.. setidaknya dalam kurun waktu 7 tahun lah.. hehehe.. lama juga? Ya.. capek? Ya wajar dong.. namanya juga kehidupan orangtua. Yakin kan kalau semua dimulai dari rumah? Makanya jadi orangtua jangan males.. hahahaha.. semangat buuuu..

Berikut ini saya lampirkan infografis langkah menumbuhkan fitrah bakat anak.

Selamat memetakan ya buibuk.. terutama yg selevel entri seperti saya..masih panjang perjalanan.. semangat!

#day11 #harike11 #tantangan10hari #KuliahBundaSayang #hanumbintangkecilku #SemuaAnakAdalahBintang #InstitutIbuProfesional

bunsay

Ngomongin Verbal Harassment

Kamu tau banget kan saya suka banget videonya Gitasav?

Nah ini salah satu videonya yg paling baru, saya nggak bisa segini baiknya untuk ngomongin betapa saya merasa seperti ini. Saya bisa aja ngamuk-ngamuk hahahaha.. tapi dia bisa nyampein ini dengan baik. Dan saya berharap juga lelaki macem ini dimusnahkan dari muka bumi. Hahahha.. you know me so well kalo sampe bisa bayangin muka saya gimana pas ngomongin ini.

Jangan sampe kalian jadi objek lelaki rendahan yg siyul-siyul gak jelas atau nge twit sesuatu yg bener-bener menyebalkan tentang kalian. Saya juga setuju kalau obrolan merendahkan wanita itu sangat nggak sopan, watch your words. Baik secara langsung maupun gak langsung, semua itu nggak pantes diucapkan kepada perempuan ya. Bisa kalian bayangkan kalau adik perempuan atau ibu kalian dibercandain seperti itu. Mungkin kalian pun akan marah.

Selamat menonton!

Gitasav Beropini Ep 26

And tell me what you think about it. Atau mungkin kalian juga pernah ngerasain hal yg sama?

bunsay

Bunsay: Bintang Kecilku 7/10

Hahahha.. ibu terlalu lelah nih untuk ngerjain hari ke 10..

Here we go..

Sebenernya kemarin kami main ke rumah akek. Dan capek sekali. Kemaren karena ayah pulang, Hanum banyak beraktivitas bareng ayahnya.

Dia banyak menunjukkan kemampuannya dalam menerjemahkan kalimat kami dalam bentuk aksi. Ia kini mampu untuk mengambilkan barang atau sekadar bernyanyi. Meskipun untuk bicara jelas masih perlu dibantu, tetapi ia mampu melakukan hal-hal yg kami ucapkan. Dan memang dari yg kami lihat dia lebih suka aktifitas bergerak, seperti jalan, menari, memindahkan barang, dan lainnya. Ia juga suka kalau ada musik, jadi kalau ada ketukan yg ia suka ia bisa mengikutinya dengan gerakan tangan, atau bahkan menari.

Kalau boneka, ya memang boneka kami tidak banyak. Jadi, waktu di rumah akek, dia nggak main boneka. Suka sih.. tapi ya gitu aja.. sesekali dia berakting menjadi ibu yg menggendongnya. Jaraaang tapinya..

#day10 #harike10 #tantangan10hari #KuliahBundaSayang #InstitutIbuProfesional #hanumbintangkecilku #SemuaAnakAdalahBintang